RSS

FITRAH

18 Jun

 

BAB I

A. Pendahuluan

Allah menciptakan manusia dalam keadaan fitrah dengan dibekali beberapa potensi yakni potensi yang ada dalam jasmani dan rohani. Bekal yang dimiliki manusia pun tidak hanya berupa asupan positif saja, karena dalarn diri manusia tercipta satu potensi yang diberi nama nafsu. Dan nafsu ini yang sering membawa manusia lupa dan ingkar dengan fitrahnya sebagai hamba dan khalifah Allah di bumi. Untuk itu manusia perlu mengembangkan potensi positif yang ada dalam dirinya untuk rnencapai fitrah tersebut. Dan sebagai pendidik pertama di bumi, orang tua adalah yang berkewajiban memberikan pengetahuan pertama kepada anak-anaknya

usaha bimbingan jasmani dan rohani pada tingkat kehidupan individu dan sosial untuk mengembangkan fitrah manusia berdasarkan hukum-hukum Manusia merupakan makhluk pilihan Allah yang mengembangkan tugas ganda, yaitu sebagai khalifäh Allah dan Abdullah (Abdi Allah). Untuk mengaktualisasikan kedua tugas tersebut, manusia dibekali dengan sejumlah potensi didalam dirinya. Potensi-potensi tersebut berupa ruh, nafs, akal, qalb, dan fitrah.

 B. Latar belakang

Yang membedakan agama Islam dengan agama lainnya, selain ajaran ketuhanannya, juga perhatian terhadap hakikat kecenderungan pemikiran manusia. Islam sangat positive thinking terhadap kecenderungan akhlak manusia terhadap kebenaran. Sebaliknya, agama non-Islam sangat negative thinking terhadap kecenderungan akhlak manusia terhadap kebenaran.

Pemikiran yang negative thinking terhadap manusia, pada hakikatnya, sangat membahayakan peradaban manusia. Jerry Falwell, pemimpin kaum fundamentalis Kristen Amerika, sangat negative thinking terhadap manusia. Mengutip Kitab Injil, ia mengatakan Katanya manusia pada dasarnya jahat. Karena itu, ia mengutuk keras kaum liberal Amerika yang berpikiran bahwa manusia pada dasarnya baik.

Padahal pendapat kaum liberal Amerika sangat mendekati kebenaran, tinggal ditambah dengan kesadaran akan adanya kekuatan Tuhan. Dalam Islam (QS 30:30) disebutkan manusia diciptakan berdasarkan fitrah Allah. Artinya, manusia pada hakikatnya mengandung keyakinan akan kebenaran dalam ketuhanan dan berakhlak di antara sesama manusia.

BAB II

  A. Devinisi

Secara etimologi, fitrah berarti penciptaan atau “terbukanya sesuatu dan melahirkannya”. Sedangkan menurut makna nasabi (pemahaman dari beberapa ayat dan hadits nabi), fitrah dapat diartikan sebagai berikut : al-thuhr (suci), al-din al-islamiy (potensi ber-Islam), Tauhid Allah (mengakui keesaan Allah), al-salamah (kondisi selamat) dll. Berdasarkan makna etimologi dan nasabi maka dapat disimpulkan bahwa secara terminologi fitrah adalah citra asli yang dinamis yang terdapat pada sistem-sistem psikofisik manusia, dan dapat diaktualisasikan dalam bentuk tingkah laku.[1]

M muslim dalam buku karangnya sketsa Al Qur’an berpendapat bahwa Fitrah adalah keadaan pertama saat manusia diciptakan oleh Allah SWT, yaitu dalam keadaan bersih dari segala kesyirikan, serta mempeunyai kecendurungan untuk senantiasa beriman  dan bertauhid kepada Allah SWT[2]

 B. Fitrah manusia beragama tauhid

Fitrah dan citra manusia adalah sebuah implikasi psikologis, karena manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah yang cenderung menganut agama yang lurus. Mereka memiliki kecenderungan untuk mengenal Tuhan, berpihak pada kebenaran, berbuat kebajikan Fitrah diungkap dalam Al-qur’an sebanyak 20 kali yang tergelar di dalam 17 surat, antara lain yang terdapat dalam surat Ar-rum ayat 30

yang artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetapkan atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan orang tidak mengetahuinya.

Firman tersebut menunjukkan bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT menurut fitrahnya. Fitrah ini merupakan citra manusia yang penciptaannya tidak ada perubahan, sebab jika berubah maka eksistensi manusia menjadi hilang. Namun secara aktual, citra itu dapat berubah sesuai dengan kehendak dan pilihan manusia sendiri.Dengan adanya fitrah, maka manusia dapat memilih dan memilah antara kebenaran dan kesalahan serta antara kebaikan dan keburukan.

Adapun yang dimaksud citra di sini adalah gambaran tentang diri manusia yang berhubungan dengan kualitas-kualitas asli manusiawi yang merupakan sunnatullah yang dibawa sejak ia dilahirkan.

Dalam diri manusia terdapat potensi yang positif dan juga negatif. Adapun potensi atau segi positifnya antara lain adalah :

1. Manusia adalah khalifah Tuhan di bumi.

2.Manusia mempunyai kapasitas intelegensi yang paling tinggi dibandingkan dengan semua makhluk yang lain.

3. Manusia mempunyai kecenderungan dekat dengan Tuhan.

4. Manusia dikaruniai pembawaan yang mulia dan martabat.

5. Manusia tidaklah semata-mata tersentuh oleh motivasi duniawi saja.

Sedangkan dari segi negatifnya, Al-qur’an telah menyatakan dalam beberapa ayat yaitu bahwa manusia itu keji dan bodoh. Adapun ayat tersebut antara lain terdapat dalam Q.S. Al-Ahzab : 72

yang artinya : Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.

Selain itu, manusia digambarkan sebagai makhluk ganda, setengah dipuji dan setengah dikutuk; tetapi mereka tidak dipuji/dikutuk karena sifat ganda tersebut. Ayat-ayat tertentu dalam Al-qur’an secara terang membedakan antara manusia terpuji dengan manusia tercela. Dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa manusia yang tidak beriman kepada Allah itu bukanlah manusia sejati. sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-‘Asryang artinya : Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.

Adapun citra manusia dalam psikologi Islam dapat disederhanakan sbb

a. Manusia dilahirkan dengan citra yang baik, seperti membawa potensi suci, ber-Islam, bertauhid dan menjadi khalifah di muka bumi.

b. Manusia memiliki ruh yang berasal dari Tuhan yang mana menjadi esensi kehidupan manusia.

c.  Bahwa pusat tingkah laku manusia adalah kalbu, bukan otak atau jasad    manusia; manusia memperoleh pengetahuan tanpa diusahakan, seperti

  B.Macam-Macam Pandagan Tentang Fitrah Manusia 

Salah satu perbedaan utama ajaran-ajaran Islam dengan ajaran agama-agama lain, aliran-aliran filsafat modern dan aliran-aliran psikologi modern adalah tentang sifat asal manusia. Islam mempercayai bahwa manusia diciptakan dalam keadaan fitrah.

Fitrah adalah sesuatu yang telah menjadi bawaannya sejak lahir. Fitrah manusia yaitu mempercayai dan mengakui Allah sebagai Tuhannya. Konsep fitrah tersebut merupakan citra unik yang dimiliki manusia, yang mana menjadi landaan bagi konstruksi psikologi Islam.

Ada beberapa pendapat tentang fitrah manusia yaitu:

1. Pandangan Fatalis

Pandangan fatalis mempercayai bahwa setiap individu, melalui ketetapan Allah Azza wa jalla adalah baik atau jahat secara asal, baik ketetapan semacam ini terjadi secara semuanya atau sebagian sesuai dengan rencana Tuhan

Ibnu Mubarak sebagai tokoh utama pandangan ini menafsirkan suatu hadits bahwa anak-anak orang-orang musyrik terlahir dalam keadaan kufur atau iman

Adapun syaikh Abdul Qodir Jailani, tokoh populer pandangan ini mengungkapkan bahwa seorang pendosa akan masuk surga jika hal itu menjadi nasibnya yang telah ditentukan Allah Azza wa jalla sebelum

  1. Pandangan Netral

Ulama yang paling representatif yang menganut pandangan netral ini adalah Ibn ‘Abd Al-Barr. Ia memandang keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun pada saat kelahiran ini suatu kondisi “kosong” yang suci, suatu keadaan sempurna atau utuh, tetapi kosong dari suatu esensi yang baik atau yang jahat. Menurut pandangan ini, iman (kebaikan) atau kufur (keburukan) hanya mewujud ketika anak tersebut mencapai kedewasaan (taklif). Setelah mencapai taklif, seseorang menjadi bertanggung jawab atas perbuatannya.

  1. Pandangan Positif

Tokoh pandangan positif ini yaitu Ibnu Taimiyyah, Ibu Qayyim al-jauziyah (klasik), Muhammad Ali Ash-Shabuni, Mufti Muhammad Syafi’i dll.

Menurut Ibnu Taimiyyah semua anak terlahir dalam keadaan fitrah; dalam suatu keadaan kebajikan bawaan dan lingkungan sosial itulah yang menyebabkan seorang individu menyimpang dari keadaan ini.

Menurut sayyid Quthb, dua pembentuk esensial dari struktur manusia secara menyeluruh, yaitu ruh dan tanah, mengakibatkan kebaikan dan kejahatan sebagai dua kecenderungan yang setara pada manusia (kecenderungan untuk mengikuti Tuhan atau kecenderungan untuk tersesat)

Begitupun Shari’ati berpandangan bahwa manusia adalah berdimensi-ganda dengan sifat dasar ganda, suatu susunan dari dua kekuatan, bukan saja berbeda, tetapi juga berlawanan. Yang satu cenderung turun pada materi dan yang lain cenderung naik pada Ruh suci (ciptaan)Allah.


[1] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam)

[2] M.Ishom El Saha, MA, Sketsa Al – Qur’an,(Jakarta, PT. LISTA FARISKA PUTRA)jilid 1, hal 175

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 18, 2011 in Uncategorized

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: